Rabu, 27 Januari 2016

Menengok Kapal Perang Australia di Tepi Laut Jakarta

Kapal perang Australia ‘HMAS Darwin’ bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Australia Plus berkesempatan untuk mengunjungi kapal yang bermuatan 224 awak ini pada akhir pekan lalu. 
Tiba di Jakarta pada Minggu (24/1) pagi, kapal perang ‘HMAS Darwin’ langsung menerima kunjungan publik (terbatas) pada siang harinya.
Bertolak dari Thailand, kapal seberat 4000 ton ini sedianya berada dalam misi 6 bulan di Timur Tengah untuk memberantas penyelundupan narkoba dan perompakan, yang dimulai akhir Desember 2015 lalu.
Pemandangan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari atas kapal HMAS Darwin. (Foto: Nurina Savitri)
Pemandangan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari atas kapal HMAS Darwin. (Foto: Nurina Savitri)
Sersan Stewart Martin menjelaskan tentang pipa bahan bakar kapal. Pengisian bahan bakar dilakukan ketika kapal sedang berjalan. (Foto: Nurina Savitri)
Sersan Stewart Martin menjelaskan tentang pipa bahan bakar kapal. Pengisian bahan bakar dilakukan ketika kapal sedang berjalan. (Foto: Nurina Savitri)
Kursi kemudi di ruang kendali kapal atau 'bridge'. (Foto: Nurina Savitri)
Kursi kemudi di ruang kendali kapal atau 'bridge'. (Foto: Nurina Savitri)
Ketika Australia Plus mengunjungi ‘HMAS Darwin’, para awak kapal -yang dipimpin Letnan Kolonel (Letkol) Laut Philip Henry ini -tengah berkumpul di geladak.
“Mereka sedang membangun tenda untuk acara pesta koktail besok malam. Tak ada misi khusus di Indonesia, kami hanya mampir,” kata pemandu siang itu, Sersan Stewart Martin, sambil membawa masuk rombongan kecil pengunjung ke dalam kapal.
HMAS Darwin adalah kapal perang buatan Amerika jenis FFG atau kapal rudal terpandu yang hanya diproduksi sebanyak 61 buah.
Kapal ini mampu menangkal serangkaian ancaman dari udara, permukaan laut dan di bawah permukaan laut. “Australia punya 6 kapal jenis ini. Selain HMAS Darwin, ada pula HMAS Adelaide, Canberra, Sydney, Melbourne dan Newcastle,” sebut Sersan Stewart.
“Mereka adalah kapal Angkatan Laut Australia pertama yang bertenaga turbin gas untuk pendorong utamanya,” sambung pria paruh baya ini. Sersan Stewart kemudian mengajak Australia Plus dan pengunjung lainnya ke sisi geladak pipa telkom tempat pompa bahan bakar tersimpan. “Ada yang tahu ini apa?,” katanya kepada pengunjung sambil menunjuk pipa lebar yang tampak seperti memiliki cerobong asap. “Ini adalah bagian paling berbahaya dari kapal ini, selain rudal,” sambungnya.
Ia menuturkan, “Bahan bakar kapal ini diisi selagi kapal berjalan dan jarak antara kapal tanker pengisi bahan bakar dengan kapal kami harus tepat dan kecepatannya harus selaras. Sama seperti pengisian bahan bakar di udara.”
Dari situ, rombongan kecil diarak ke dalam menuju ruang kendali kapal, tempat di mana sistem navigasi  dan kemudi berada.
Kapal perang ini juga dilengkapi dengan hanggar helikopter beserta helikopter ‘Seahawk’, yang kala Australia Plus berkunjung, baru saja menjalani pemeriksaan.
Dek utama –semacam lantai dasar pada bangunan -pada HMAS Darwin disebut dek 1, dan tingkat di atasnya dimulai dengan angka 0. Misalnya, ruang kendali kapal yang berada selantai di atas dek utama maka disebut lantai 0-1.
Sementara untuk tingkat-tingkat di bawah dek utama disebut dengan lantai 2 hingga 4, dengan lantai terbawah memiliki angka paling besar. “Karena ini kapal Amerika jadi sistem penamaan lantai (tingkat)-nya seperti itu,” jelas sang pemandu siang itu.
Ia lantas menerangkan misi perang terakhir yang dijalankan HMAS Darwin, yakni Perang Teluk di awal dekade 1990’an.
“Saya tak bisa menjelaskan detil rudal apa saja yang ada di kapal ini, karena saya di sini sebenarnya insinyur laut, tapi seingat saya untuk misi perang, kapal ini terakhir terlibat dalam Perang Teluk,” ungkapnya.
Menurut keterangan di situs resmi Angkatan Laut Australia, HMAS Darwin pernah ditugaskan 5 kali ke Teluk Persia, yakni pada tahun 1990, 1991, 1992, 2002, dan 2004. Kapal perang ini juga pernah bertugas di Timor Leste tahun 1999 dan beroperasi di Kepulauan Solomon pada tahun 2001.

Selasa, 26 Januari 2016

Curi Pipa Kabel, Warga Pakuhaji Terancam Penjara dan Denda Ratusan Juta

Pipa Telkom

Jakarta - Polsek Sepatan, Tangerang, berhasil menggagalkan aksi pencurian pipa paralon berisi kabel di desa Sarakan, Kabupaten Tangerang. Aksi pencurian itu tergolong nekat lantaran dilakukan pada pagi hari.

Terungkapnya kasus berawal dari anggota polisi yang mendapat laporan masyarakat, bahwa telah terjadi dugaan pencurian pipa paralon berisi kabel, pada hari Senin (25/1) lalu.  Pihak kepolisian sendiri baru berhasil menangkap pelaku setelah melakukan penyelidikan.

"Telah terjadi tindak pidana pencurian sebagai mana disangka Pasal 362 KUHP tentang pengambilan barang yang bukan punya haknya," ujar Kapolsek Sepatan, AKP Hidayat Iwan dalam pesan singkat kepada detikcom, Selasa (26/1/2015). Pipa Telkom

Aksi pencurian itu dilakukan oleh tersangka berinisial J (26) warga Pakuhaji seorang diri. Pelaku mencuri berbekal sebilah pisau.

"Tersangka seorang diri datang ke TKP kemudian mencuri pipa paralon yang berisi kabel dengan cara merusak pipa paralon yang berada disamping selokan kemudian pipa paralon tersebut dipotong dengan menggunakan sebilah pisau," ujarnya.

Dia mengatakan hasil olah kejadian perkaran, pihaknya menyita kabel sepanjang 12 meter berikut alat yang digunakan.

"Barang bukti yang disita satu potong pipa paralon yang berisi kabel sepanjang 12 meter, empat kunci pas ukuran 10-12,12-13,14-15,14-17, dua kunci ring ukuran 10-11,14-15, sebilah pisau panjang 19 centimeter, gagang plastik putih kondisi bergigi di bagian bawahnya. Sebuah jarum sol bergagang kayu," paparnya.

Akibat perbuatannya pelaku terancam hukuman penjara lima tahun dengan denda paling banyak Rp 900 juta. Saat ini pelaku telah mendekam di balik jeruji Polsek Sepatan.


(edo/dnu)

Sumber: detik.com

Senin, 25 Januari 2016

Terkena Proyek Tol Bocimi, PDAM Butuh Rp 8,4 Miliar

Relokasi pipa PDAM yang akan dilakukan harus dikoordinasikan dengan PDAM, agar tidak merugikan masyarakat.

pipa telkom

BOGOR - Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor mengestimasi, biaya relokasi jalur pipa air yang akan terdampak oleh pembangunan megaproyek jalan tol Bogor Ciawi Sukabumi (Bocimi) mencapai Rp 8,4 miliar.

Hal ini seperti diungkapkan Plt. Direktur Tehnik PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor Deni Surya Senjaya mengungkapkan, dana tersebut untuk sejumlah kebutuhan, terutama pengadaan pipa.

"Untuk jalur pipa yang di Tengek sepanjang 600 meter membutuhkan biaya Rp 6,6 miliar. Sedangkan yang di Rancamaya, Bojongkerta dan Rulita itu membutuhkan dana Rp 1,8 miliar. Jadi totalnya Rp 8,4 miliar," ungkapnya, Senin (25/1/2016).

Lanjutnya, sesuai perhitungan, biaya sebesar itu untuk pengadaan pipa PDAM jenis baru berdiameter 15 inchi. Dan juga termasuk biaya pembebasan tanah dan biaya pekerjaan hingga rampung.

"Jalur pipa PDAM yang terkena Tol Bocimi ini dibangun pada tahun 1975, zaman Colombo Plan Australia dan berada di atas tanah milik PDAM," paparnya. pipa telkom

Oleh karena itu, pihaknya berharap pelaksana proyek Tol Bocimi secepatnya merelokasi dan membangun jalur baru, sebelum jalur pipa lama terputus agar pelayanan tidak terganggu.

"Pipa ini melayani sebanyak 12 ribu pelanggan Zona I yang meliputi wilayah Rancamaya, Kertamaya, Bojongkerta, Wangun, Muarasari, Tajur, dan Mutiara Bogor Raya, Katulampa," tandasnya.

Deni juga menegaskan, jika pihaknya tidak memaksa pekerjaan relokasi harus dilakukan oleh PDAM. Namun, bisa saja dilakakukan oleh pihak proyek tol dengan menggandeng tenaga ahli di bawah pengawasan PDAM.

"Pekerjaan ini kami perkirakan paling cepat bisa selesai dalam waktu dua bulan. Untuk sekarang jalur pipa masih normal, tapi kalau pekerjaan akan dimulai pasti sesuai SOP. Sebelumnya kami juga akan mengumumkannya kepada masyarakat," pungkasnya.

Minggu, 24 Januari 2016

PROYEK EKSPANSI PIPA MINYAK ANCAM WARISAN BUDAYA AS

RMOL. Proyek perluasan pipa minyak di Kanada akan menempatkan hak nelayan dan warisan budaya Amerika Serikat dalam resiko.

Proyek Trans Gunung Kinder Morgan itu akan memperluas kapasitas pipa hampir tiga kali lipat dari 300.000 ke 890.000 barel minyak mentah per hari.

Proyek tersebut diperkirakan akan secara dramatis meningkatkan jumlah kapal tanker minyak yang berlayar di perairan sekitarnya.

"Proyek ini akan membahayakan budaya suku Amerika Serikat," kata seorang pengacara Earthjustice, Kristen Boyles.

Boyles mengatakan kepada panel tiga anggota bahwa pejabat setempat tidak berkonsultasi dengan suku asli Amerika Serikat dan tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap mereka.

"Proyek ini seluruhnya adalah resiko dan tidak ada imbalan," tambahnya.

Bulan lalu, seorang pengacara untuk Kinder Morgan Inc mengatakan kepada dewan energi bahwa ekspansi bernilai 5.4 miliar dolar AS itu bisa dilakukan dengan cara meminimalkan dampak terhadap lingkungan.

"Tidak ada keraguan untuk kebutuhan proyek ini dan manfaat yang akan mengalir dari itu," kata pengacara Kinder Morgan Shawn Denstedt pada bulan Desember lalu.

"Proyek ini beroperasi dengan matang, memiliki sistem pemeliharaan, dan tanggap darurat berencana sudah di tempat," tambahnya seperti dimuat The Guardian. [mel]

Sumber : Pipa Telkom